Jumat, 08 April 2011

KHUTBAH JUMAT TENTANG BENCANA ALAM

Akhir-akhir ini kita sering mendengar, melihat dan bahkan merasakan sendiri bencana alam yang terjadi diberbagai wilayah Indonesia maupun di negara-negara besar lainnya.
Bencana-bencana tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan ada sebab dan musababnya sehingga Allah SWT menegurannya dan memberikan peringatan agar kita kembali kepada jalan yang benar.
Bencana kadangkala berupa kemarau panjang sehingga menimbulkan kekeringan dan para petani panik akibat tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber mata pencahariannya mati, munculannya hama yang menyerang hasil pertanian, kebakaran hutan, mewabahnya berbagai macam penyakit, bangkrutnya usaha, bahkan terjadinya kecelakaan darat, laut dan udara yang kesemuanya itu merupakan teguran dan peringatan Allah SWT kepada hambanya.
Sedangkan bencana besar berupa banjir, hujan yang turun secara terus menerus, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, gelombang pasang, angin topan, badai dan gelombang tsnumai yang dahsyat yang meluluh-lantakan dan memporak-poranda kota-kota besar, sebagaimana yang terjadi di Jepang dan dibeberapa negara lainnya.
Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an

Betapa banyaknya negeri-negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami menimpa penduduknya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. (Al-A’raf ayat 4)
Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan (kesemuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah pula)

Bencana ini mungkin peringatan Allah kepada kita yang telah banyak berbuat dosa dan kerusakan dimuka bumi ini dan sebagai akibatnya Allah SWT menurunkan azab kepada kita sekalian sebagaimana FirmanNya
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia, agar supaya Kami merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka sendiri agar mereka mau kembali ke jalan yang benar
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.
Masih segar dalam ingatan kita, ketika bencana gempa bumi dan tsunami menggulung Daerah Istimewa Aceh yang dijuliki “Serambi Mekkah” 26 Desember 2005 lalu, ratusan ribu warga meninggal dunia, rumah-rumah penduduk hancur berantakan, yang kemudian susul- menyusul terjadi diberbagai daerah, Padang Pariaman, Wasior Papua, Mentawai di Sumatera Utara dan masih banyak lagi daerah-daerah dilanda bencana alam, dan kemarin tsunami meluluh-lantakan sebuah Negara maju dan modern dan serba canggih, Jepang, namun kecagihan yang dimilikinya tidak mampu menolak datangnya Sunnatullah ini.
Kita tidak boleh merasa aman dari pada bencana meski kita bersembunyi dan berlindung ditempat-tempat yang kita anggap aman, ia datang tidak memilih tempat, ruang dan waktu, tidak memilih penduduknya beriman atau kufur, miskin, kaya, semuanya akan dapat merasakannya
Sebagaimana firmanNya :


“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi ini bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,

“Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan)
Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?


Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.


Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Para ahli boleh berpendapat apa saja tentang bencana itu, namun Islam melalui pesan Al Qur’an kitab Suci Ummat Islam telah memberitakan dengan jelas bahwa bencana itu merupakan teguran atau bala’ (malapetaka) yang diberikan Allah SWT kepada kita yang ingkar akan petunjuknya.
Bencana ini mungkin disebabkan karena kema’syiatan dan kemun’karan telah merajalela dimana-mana , pemimpin tidak lagi amanah, bicaranya tidak lagi benar, sulit memegang ucapan dan janjinya karena sering berubah-rubah (hari ini bicara lain dan kenyataannya juga lain).
Hukum yang menjadi peraturan dipermainkan dengan seenaknya, fitnah semakin subur, bahkan ada orang dengan sengaja menyebarkan keburukan orang lain (aib saudara muslimnya diobral).
Mengenai fitnah dan menyebarkan aib ini, Allah SWT berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik maka bertakwalah kepada Allah, memohon ampun atas segala dosa, karena sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Kekerasan makin marajalele, anak membunuh orang tua, orang tua menyiksa anaknya, hilangnya kasih sayang orang tua terhadap anak, (bahkan ada orang tua tidak mau memberikan kesempatan kepada generasi muda membawa perobahan, dia tidak rela dan ikhlas, meski dia tau gambaran tentang orang-orang yang menumpuk kayu bakar diatas pundaknya.
Sehingga jangan heran kalau ada anak-anak yang tidak lagi menghormati orang tua karena sikapnya yang egois.
Maka akibat perbuatan inilah yang mungkin menyebabkan datangnya kemurkaan Allah SWT dengan menurunkan bala dan bencana yang menelan korban jiwa umat manusia dan harta benda.
Maasyrial Hadirin, Sidang Jumah yang berbahagia.
Kita sebagai orang muslim yang percaya akan kekuasaan Allah, maka sepatutnya mengambil I’tibar, mengambil pelajaran, mengambil hikmah sebagai tamzilan bagi kita bahwa ini semua terjadi atas kehendak iradath Allah SWT. Sebagaimana firmannya :
Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
Oleh karenanya, marilah kita memohon ampun kepada Allah atas segala perbuatan dosa dan salah yang selama ini kita buat, menyakiti hati orang lain, baik dengan kata-kata mau perbuatan, berbuat semena-mena, menganggap remeh orang lain, mengangap orang lain itu lemah dan tidak ada apa-apanya, Naudzubillah tsuma naudzubillahi mindzalik.
Akhirnya marilah kita kembali memohon ampun atas segala dosa, khilaf dan salah yang selama ini telah kita perbuat dan berjanji tidakakan melakukannya kembali, apalagi menyebarekan fitnah, aib dan gibah saudara-saudara muslim kita yang tidak benar dan menyesatkan.
Semoga Allah SWT menerima ampunan dan tobat kita dan meridhoi apa-apa yang akan kita perbuat untuk kembali bersama menjalin hubungan harmonis dengan sesama saudara-saudara muslim kita. Amiin, amiin ya rabbal a’lamiin,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar